Monday, December 16, 2019

Sosiologi Pembangunan Berbasis Masyarakat

SOSIOLOGI PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT

oleh: Imam Saepudin Hidayat

       Pembangunan menurut  pengertian umum adalah suatu upaya terencana untuk merubah wilayah dan masyarakat menuju keadaan lebih baik. Dari tinjauan Ilmu sosial, Pembangunan diartikan perubahan masyarakat yang berlangsung secara terus menerus sehingga mampu mewujudkan kesejahteraan masyaraka secara optimal.  Strategi Pembangunan berkembang dari masa ke masa secara dinamis sesuai dengan konteks peradaban. Paradigma Pembangunan yang menekankan pada Pembangunan ekonomi mulai ditinggalkan karena tidak dapat menjawab masalah sosial  seperti kemiskinan, kenakalan, kesenjangan, dan keterbelakangan. Paradigma pembanguan kemudian bergeser ke arah pendekatan masyarakat yang sebelumnya sebagai objek menjadi subjek Pembangunan. Paradigma baru ini berbasis komunitas dengan memberikan tempat utama bagi prakarsa, keanekragaman lokal, dan kearifan lokal.
            Keunggulan pembanguan berbasis masyarakat mengarahkan perkembangan pada: (1) Kesadaran masyarakat akan pentingnya partisipasi dalam proses pembangunan; (2) Konsep teknologi tepat guna, indigenous technology, indigenous knowledge dan indigenous institutions sebagai akibat kegagalan konsep transfer teknologi; (3) Tuntunan masyarakat dunia tentang hak asasi, keadilan, dan kepastian hukum dalam proses pembangunan; (4) Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yang merupakan suatu alternatif paradigma pembangunan baru; (5) Lembaga swadaya masyarakat; (6) Meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendekatan pengembangan masyarakat dalam praksis pembangunan.
         Pembangunan berbasis masyarakat menciptakan masyarakat berdaya dan berbudaya.  Keberdayaan memungkinkan suatu masyarakat bertahan dan mengembangkan diri untuk mencapai kemajuan. Sebagian besar masyarakat berdaya adalah indifidunya memiliki kesehatan fisik, mental, terdidik, kuat dan berbudaya. Membudayakan masyarakat adalah meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi tidak mampu lepas dari kemiskinan, kebodohan, ketidaksehatan, dan ketertinggalan. Untuk mendorong masyarakat berdaya  dengan cara menciptakan iklim atau suasana yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Pengembangan daya tersebut dilakukan dengan mendorong, memotivasi, dan membangikitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki masyarakat.  Penguatan tersebut meliputi penyediaan berbagai masukan serta membuka akses pada berbagai peluang yang ada.  Masyarakat menjadi pelaku utama pembanguan, dengan inti pemberdayaan adalah transformasi menejemen komunitas menuju kesejahteraan bersama. Pemberdayaan ini merupakan sarana ampuh untuk keluar dari kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan menuju kesejahteraan bersama. 
Pembangunan tanpa memperhatikan kharakteristik dan kebutuhan lokal akan banyak membuang sumberdaya secara sia-sia. Kharakteristik geografi  seperti  lokasi dekat laut, pinggir sungai, pinggir hutan, pedalaman sangat berpengaruh terhadap model pembangunan yang diimplementasikan. Faktor lain yang perlu mendapat perhatian utama adalah kearifan lokal yang memerlukan inventarisasi, reorientasi, dan reinterpretasi maknanya. Model pemberdayaan yang  sering dan mudah dilakukan  yaitu dengan mengeneralisasi  pemberdayaan masyarakat secara nasional. Pendekatan  pemberdayaan secara nasional dilakukan dengan asumsi bahwa kebutuhan masyarakat sama untuk seluruh daerah atau sama dengan kebutuhan penyusun kebijakan. Inilah penyebab utama pembangunan yang tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (penghamburan sumber daya). Akhirnya dalam beberapa kasus, masyarakat tidak menghiraukan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah.  Selain pembangunan yang telah dilaksanakan tidak bermanfaat, jeneralisasi seperti ini mereduksi kebudayaan lokal yang dapat menjadi modal sosial pembangunan. Oleh karena itu, pemberdayaan yang disusun secara nasional patut direevaluasi dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan wilayahnya masing-masing. 
       Langkah-langkah yang dilakukan oleh masyarakat dalam pemberdayaan adalah pertama, memilih prioritas, menyusun alternatif–alternatif pelaksanaan, mengevaluasi dan melakukan inovasi. Kedua, dapat membuka akses kepada sumber daya pendukung lainnya,  termasuk membuka jaringan kepada komunitas lainnya. Ketiga, kebersamaan dalam pemanfaatan dan kepemilikan alat-alat produksi. Terakhir, memperkuat masyarakat untuk ikut secara langsung dalam menentukan arah kebijakan yang kondusif  bagi perkembangan mereka. Pembangunan dengan model seperti ini menjadikan masyarakat subjek pembangunan (bukan objek pembangunan), sehingga masyarakat sudah mempertimbangkan kondisi dan budaya lokalnya masing-masing sebelum menentukan alternatif-alternatif pilihan.
       Keberhasilan pemberdayaan bukan hanya secara administrasi sudah sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, akan tetapi yang lebih substantif yaitu  apakah kegiatan tersebut dapat bertahan lama setelah selesai proyek (kebanyakan selesai proyek selesai pula kegiatan). Kegiatan dapat bertahan lama apabila pembangunan tersebut sesuai dengan kebutuhan, bermanfaat dan tidak bertentangan dengan sistem nilai masyarakat.  Tugas pemerintah/ lembaga adalah mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk dapat menolong dirinya sendiri dalam mewujudkan kemandirian. Pemberdayaan dikatakan sangat berhasil apabila kegiatan tersebut dapat berkembang dan dicontoh oleh  masyarakat lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
Taufiq Rahman,2011, Glosari Teori Sosial,Bandung : Ibnu Sina Pers
Taufiq Rahman, Pembangunan Berbasis Masyarakat.
Bandung : Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung.
Sonya, E.R, M.T., Zuldin, M, and Kustana, k. 2014. Model Pembangunan Masyarakat Berbasis Budaya dan Lingkungan Hidup Dalam Menumbuhkan Ekonomi Kreatif.

Saturday, December 14, 2019

HIRARKI DALAMMANAJEMEN PEMBANGUNAN

HIRARKI  DALAM MANAJEMEN PEMBANGUNAN

Oleh: Dita Hidayati

       Hirarki adalah alat yang paling mudah untuk memahami masalah yang kompleks dimana masalah tersebut diuraikan ke dalam elemen-elemen yang bersangkutan, menyusun elemen-elemen tersebut secara hirarkis dan akhirnya melakukan penilaian atas elemen-elemen tersebut sekaligus menentukan keputusan mana yang akan diambil. Proses penyusunan elemen-elemen secara hirarkis meliputi pengelompokan elemen-elemen dalam komponen yang sifatnya homogen dan menyusun komponen-komponen tersebut dalam level hirarki yang tepat. Hirarki juga merupakan abstraksi struktur suatu sistem yang mempelajari fungsi interaksi antara komponen dan juga dampak-dampaknya pada sistern.          Abstraksi ini mempunyai bentuk saling berkaitan, tersusun dan suatu puncak atau sasaran utama (ultimate goal) turun ke sub-sub tujuan tersebut, lain kepelaku (aktor) yang memberi dorongan, turun ketujuan-tujuan pelaku, kemudian kebijakan-kebijakan, strategi-strategi tersebut. Dengan demikian hirarki adalah sistem yang tingkatan-tingkatan (level) keputusannya berstratifikasi dengan beberapa elemen keputusan pada setiap tingkatan keputusan. keputusan dilakukan untuk menggambarkan elemen sistem atau alternatif keputusan yang teridentifikasi.
        Pembangunan sendiri bersifat univelsal, bisa berupa pembangunan material atauun imaterial, fisik ataupun non fisik. Secara pengertian pebangunan merupakan suatu upaya terencana untuk merubah wilayah dan masyarakat menuju keadaan yang lebih baik. Dan jika ditinjau dalam ilmu sosial, pembangunan merupakan perubahan masyarakat yang berlangsung secara terus menerus sehingga mampu ewujudkan kesejahterahan masyarakat secara optimal. 
          (Rahman: 2018) Semakin majunya perkembangan zaman strategi pembangunan terus berubah. Pada mulanya fokus dan strategi pembangunan cendurung bersifat Top Down yaitu berasal dari pemerintahan, tanpa pemerintah meneliti dan mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh masyarakatnya. Namun seiring berkembangnya zaman strategi pembangunan bergeser ke arah pendekatan yang lebih mementingkan kebutuhan masyarakatnya untuk menciptakan  suatu pembangunan yang baik lagi, dan pembangunan tersebut di sebut Pembangunan Berbasis Masyarakat yang memiliki sifat Buttom Up. Pembangunana berbasis masyarakat ini memiliki strategi jitu yaitu menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan bukan hanya objek dari pembangunan pemerintahan.
(Rahman: 2018) terdapat beberapa langkah dalam menciptakan pembangunan berbasis masyarakat, diantaranya yaitu:
a. Memilih prioritas, menyusun alternatif, alternatif pelaksanaan, mengevaluasi, dan melakukan inovasi.
b. Dapat menbuka akses kepada sumber daya pendukung lainnya, termasuk membuka jaringan kepada komunitas lainnya..
c.  Terdapat kebersamaan dalam pemanfaatan dan kepemilikan alat-alat produksi.
d.  Memperkuat masyarakat untuk ikut serta langsung dalam menentukan arah kebijakan yang kondusif bagi perkembangan mereka.
         Adapun fungsi hierarki manajemen diantranya yaitu, adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.
       Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.
        Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil.
      Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership).
       Pengevaluasian (evaluating) adalah proses pengawasan dan pengendalian performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya perusahaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Seorang manajer dituntut untuk menemukan masalah yang ada dalam operasional perusahaan, kemudian memecahkannya sebelum masalah itu menjadi semakin besar.
         Keberhasilan pelaksanaan program pembangunan, khususnyapembangunan prasarana dasar dengan pendekatan partisipatif ditentukan olehbeberapa faktor. Faktor yang utama tentu saja adalah faktor komponen masyarakatsendiri, faktor lain yang berpengaruh adalah keterlibatan pihak ketiga sebagaifasilitator (pendamping). Untuk itu diperlukan peran fasilitator dalam upayapemberdayaan sehingga masyarakat mampu merumuskan masalah, membuatrencana, serta mengorganisasikan komunitasnya untuk memperbaiki kondisisosial, ekonomi, dan kebudayaan dengan mengintegrasikan segenap sumber dayayang dimilikinya. Selain faktor tersebut mekanisme pelaksanaan program jugasangat menentukan keberhasilan dan keberlanjutan dari program pembangunanyang dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Sesuai dengan pengertianpengelolaan oleh masyarakat sebagai bagian siklus pembangunan partisipatif,maka masyarakat harus mampu memberikan pengaruh yang kuat serta mengontroldalam mekanisme pelaksanaan pembangunan. Untuk itu adanya pilihan teknologidan tingkat layanan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakatmenjadi prasyarat utama dalam keberlanjutannya. (Rahman: 2018)

ERSA SUCI SALINDA: Pengembangan Kelembagaan Pembangunan

    Pengembangan Kelembagaan Pembangunan



                      Oleh Ersa Suci Salinda





     Perubahan sosial adalah fenomena yang lazim dalam semua masyarakat. Ia juga merupakan satu proses yang berlangsung. Meskipu kadarnya berbeda dengan satu masyarakat yang lain perubahan sosial berarti memodifikasi atau perubahan istitusi sosial atau pola pola peran sosial. Yang ditekankan disini adalah perubahan penting dalam perilaku sosial atau perubahan dalam sistem sosial yang lebih besar, bukan perubahan kecil dalam kelompok kecil jadi perubahan sosial merujuk kepada perubahan dari segi hubungan sosial yang ada, seperti dalam kehidupan keluarga, ekonomi atau agama. (Rahman, 2011) 

  Disuatu negara terdapat beberapa titik pertumbuhan, dimana industry berkelompok ditempat itu, karena diperoleh beberapa manfaat dalam bentuk penghematan-penghematan dalam kemudahan. Secara geografis pertumbuhan ekonomi pasti tidak seimbang. Dalam proses pertumbuhan tidak seimbang selalu dapat dilihat bahwa kemajuan disuatu tempat (titik). (Yeremias, 1995)

         Pembangunan merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terncana melalui berbagai macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Bangsa Indonesia seperti termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah mencantumkan tujuan pembangunan nasionalnya. Kesejahteraan masyarakat adalah suatu keadaan yang selalu menjadi cita-cita seluruh bangsa di dunia ini. Berbagai teori tentang pembangunan telah banyak dikeluarkan oleh ahli-ahli sosial barat, salah satunya yang juga dianut oleh Bangsa Indonesia dalam program pembangunannya adalah teori modernisasi. Modernisasi merupakan tanggapan ilmuan sosial barat terhadap tantangan yang dihadapi oleh negara dunia kedua setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pada masa sekarang ini , konsep pembangunan sudah merupakan suatu ideologi yang menggambarkan kegiatan-kegiatan dalam upaya mengejar pertumbuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pembangunan sangat berhubungan dengan soiologi pembangunan. Dalam suatu proses pembangunan perlu adanya kemauan keras serta kemampuan untuk memanfaatkan potensi-potensi yang tersedia dalam masyarakat untuk keperluan pembangunan. Berbagai perencanaan perlu disusun dan digelar dalam rangka menghimpun kekuatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha mencapai tingkat kesejahteraan lebih tinggi. (Nurhidayah, 2019)

    Sosiologi berguna untuk memberikan data sosial yang diperlukan dalam tahap perencanaan pembangunan maupun pelaksanaan pembangunan.Pada tahap perencanaan,yang harus diperhatikan yaitu apa yang menjadi kebutuhan sosial.Pada tahap pelaksanaan yang harus diperhatikan yaitu kekuatan sosial dalam masyarakat serta proses perubahan social.Sementara itu pada tahap penilaian pembangunan,yang harus dilakukan adalah analisis terhadap  efek atau dampak dari sosial pembangunan itu. Berikut adalah program yang harus dilakukan: 


a. Pengembangan ekonomi rakyat

      Pembangunan ekonomi kerakyatan pada itinya adalah mengelola seluruh potensi konomi yang menguasai hajat hidup orang banyak dengan menerapkan asas ekonomi kerakyatan 

b. Pengembangan kualitas sumber daya masunia 

     Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam proses pembangunan. Semakin tinggi sumber daya manusia maka semakin mendorong kemajuan suatu negara. Saat ini, peranan SDM lebih menonjol dibandingkan dengan modal fisik dalam proses pembanguanan ekonomi 


c. Pembangunan infastruktur 

Pembangunan infastruktur mampu mendukung prioritas pembangunan lainnya, khususnya pengembangan ekonomi kerakyatan dan peningkatan kualitas SDM.





Daftar Pustaka



Nurhidayah, E. (2015). Sosiologi dan Antropologi. Semarang: Uin Semarang

Rahman, T. (2011). Glosari Teori Sosial. Bandung: Ibnu Sirna

Yemeris, T. (1995). Pembangunan Regional(HandOut). Yogyakarta: UGM

Kearifan Lokal dalam Pembangunan Berbasis Masyarakat

KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BEBRBASIS MASYARAKAT
Oleh: Dina Heryani

  Setiap masyarakat yang berbeda geografisnya akan mengembangkan pranata-pranata dan kelembagaan yang sesuai dengan kondisi geografisnya masing-masing sebagai salah satu strategi adaptasi dalam berproduksi dan bereproduksi. Oleh karena itu, mengenali unsur-unsur kearifan lokal suatu masyarakat sangat penting dalam proses pemberdayaan dan pembangunan bagi mereka. Sebab, setiap masyarakat memiliki potensi keswadayaan yang unik dan khususnya konsisi ekologi dan geografisnya yang berbeda-beda (Mubyarto, 1994).
    Kearifan lokal (local wisdom) merupakan bagian dari sistem budaya, biasanya berupa larangan-larangan yang mengatur hubungan sosial maupun hubungan manusia dengan lingkungan alamnya. Kearifan lokal berfungsi untuk menjaga kelestarian dan kesinambungan “aset” yang dimiliki suatu masyarakat sehingga masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya dari generasi ke generasi berikutnya, tanpa harus merusak atau menghabiskan “aset” tersebut. Oleh sebab itu, kearifan lokal selalu dijadikan pedoman atau acuan oleh masyarakat dalam bertindak atau berprilaku dalam praktis kehidupannya. Hal ini merupakan wujud dari kesadaran terhadap hukum kausalitas (sebab-akibat) dan pemahaman terhadap hubungan yang bersifat simbiosis mutualis. Kearifan lokal ini tumbuh dari karakter dan budaya masyarakat yang sudah mengakar dan secara turun menurun telah dijalani sebagai hidup penyatuan kultur sosial dengan alam disekitarnya.
  Pembangunan tanpa memperhatikan karakteristik dan kebutuhan lokal akan banyak membuang sumberdaya secara sia-sia. Karakteristik geografis seperti lokasi dekat laut, pinggir sungai, pinggir hutan, pedalaman sangat berpengaruh terhadap model pembangunan yang diimplementasikan. Faktor lain yang perlu mendapat perhatian utama adalah kearifan lokal yang memerlukan invertarisasi, teorientasi, dan reinterpretasi maknanya.
  Dalam kegiatan pembangunan, perlu adanya kerjasama antara individu dengan makhluk hidup disekitarnya. Dikutip dari buku yang berjudul “Glosari Teori Sosial” (Rahman, 51:2011): Kerjasama (Cooperation) adalah interaksi sosial yang melibatkan individu atau kelompok dalam membuat tindakan bersama bagi mencapai cita-cita yang sama. Kerjasama adalah proses yang paling dasar dalam masyarakat. Biasanya kerjasama melibatkan pembagian kerja di kalangan individu, yaitu menjalankan tugas yang berlainan dalam usaha mencapai satu tujuan yang sama.
  Namun demikian, dalam artikel ini tidak membahas lebih jauh lagi tentang kerjasama yang dikutip dibuku “Glosari Teori Sosial”. Setelah kita mengetahui pengertian daripada kearifan lokal dan kerjasama. Tentunya, dua hal tersebut berkesinambungan sehingga adanya saling mempengaruhi, dimana d dalam kearifan lokal itu sendiri sangat dibutuhkan adanya kerjasama antara individu dengan individu, yang mempunyai tujuan yang sama untuk menjaga kebudayaan ataupun sumber daya alam yang dimiliki di dalam suatu daerah tersebut.
  Pembangunan berbasis masyarakat itu sendiri, secara sederhana dapat diartikan sebagai pembangunan yang mengacu kepada kebutuhan masyarakat, direncanakan. Dan dilaksanakan oleh masyarakat dengan sebesar-besarnya memanfaatkan potensi sumber-daya (alam, manusia, kelembagaan, nilai-nilai sosial-budaya, dll.) yang ada dan dapat diakses oleh masyarakat setempat.
     Relevansi kearifan lokal dan pembangunan itu sendiri ialah terdapat Lima isu strategies Yang terkait dengan kearifan lokal, yaitu (Saharuddin, 2009): 
a. Menghormati Dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
b. Komitmen global terhadap pembangunan sosial masyarakat adat.
c. Pelestarian lingkungan Yang menghindari keterdesakan masyarakat aseli dan eksploitasi sumberdaya-alam Yang berlebihan.
d. Meniadakan marginalisasi masyarakat aseli dalam pembangunan nasional. 
e. Memperkuat nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat dengan mengintegrasikan dalam desain kebijakan dan program pembangunan. 
    Dalam hubungan ini,  pembangunan masyarakat berbasis kearifan lokal,  mengandung arti peletakan nilai-nilai setempat sebagai input kebinakan pembangunan;  Yang dimaknai sebagai apresiasi terhadap praktik-praktik pembangunan Yang diinisiasi pelaku-pelaku lokal. 

DAFTAR PUSTAKA:
Iqbal, Asep Muhamad. (2019). Reader (Bahan Bacaan Perkuliahan) Pembangunan Berbasis Masyarakat (People-Centered Development). Bandung: Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati.
Rahman, M.Taufiq. (2011). Glosari Teori Sosiologi. Bandung: Ibnu Sina Pers.